|
Inspirasi dari Kobe Bryant: Kemenangan sebagai Buah Kegagalan Masa Lalu |
|
Opini -
Soft Skill
|
|
Selasa, 16 Juni 2009 |
“Sangat sulit untuk menjadi juara. Kami mulai dari reruntuhan kekalahan kami. Sekarang kami kembali ke sini, rasanya seperti mimpi”. (Kobe Bryant, sesaat setelah memenangkan juara NBA bersama LA Lakers)
Jangan dikira bahwa kemenangan maupun keberhasilan bisa diraih begitu saja. Kemenangan seringkali merupakan buah dari kegagalan. Hanya mereka yang pantang menyerah, mengambil hikmah dari kegagalan, dan terus mencoba, merekalah yang pada akhirnya mencapai kesuksesan dan keberhasilan.
Berapa kali kita gagal? Kapan kita kalah? Kapan kita salah langkah?
Yang paling penting adalah, kalaupun kita gagal dalam suatu perkara tapi kita tetap berhasil mengambil hikmah dari kegagalan tersebut, dan selanjutnya menjadikannya bekal untuk mengejar kemenangan.
Namun, banyak orang yang tidak pernah gagal, bukan karena ia selalu berhasil. Hanya karena ia tidak pernah berani untuk mencoba. Ia terkurung oleh ketakutannya.
“Fainna ma’al ‘usri yusro, inna ma’al ‘usri yusro” Quran 94;5-6. Maka sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan. Kenapa kalimat tersebut diulang dua kali. Saya memaknainya sebagai tanda untuk meyakinkan kita, bahwa dibalik kesulitan benar-benar ada kemudahan, atau tidak akan ada perkara tanpa solusi, karena Allah SWT sudah berjanji akan memberikan kita kemudahan di setiap kesulitan kita.
Bagaimana pendapat anda?
Be first to comment this article | Add as favourites (6) | Quote this article on your site | Views: 69 |
|
Mega Pro-yek Pilpres harus di-Lanjutkan dengan Lebih Cepat Lebih Baik |
|
Opini -
Sosial & Politik
|
|
Selasa, 16 Juni 2009 |
Kampanye dan ribut pilpres bikin pusing. Tapi saya lebih suka kampanye pilpres ini di-lanjutkan! dengan lebih cepat dan lebih baik. Masalah siapa yang jadi president atau menang agar dihitung oleh KPU lebih cepat lebih baik, tidak seperti pemilihan legislatif kemarin yang perhitungannya lama sekali.
Nantinya, siapapun yang akhirnya menjadi presiden harus lebih cepat lebih baik dilantik dan lebih cepat lebih baik menjalankan mega pro-gram-programnya. Agar kemakmuran bangsa kita dapat di-lanjutkan! dan dicapai lebih cepat lebih baik.
Di depan mata sudah ada kapal kapal Malaysia yang lebih cepat lebih baik. Kita harus kembali fokus pada permasalahan bangsa agar bisa dibangun mega pro-yek pertahanan yang lebih cepat lebih baik.
Di depan mata sudah banyak orang miskin yang harus dientaskan dengan lebih cepat lebih baik. Sudah banyak koruptor dan tikus-tikus yang harus dimasukan ke penjara dengan lebih cepat lebih baik.
Presidenku, cepatlah terpilih, lebih cepat lebih baik.
Siapapun Presidenku, program-program pemberantasan korupsi yang cukup memuaskan, tolong lanjutkan! Lanjutkan ketahanan energi sehingga bbm tidak naik. Lanjutkan reformasi birokrasi sehingga aparat pemerintah tidak lagi korup. Lanjutkan iklim investasi yang baik sehingga pertumbuhan kita terus berlanjut.
Harus ada keberanian untuk membuat mega pro-yek sehingga pertumbuhan ekonomi terdorong. Harus ada ide-ide kreatif untuk membuat mega pro-posal kepada bangsa ini, bagaimana menyelesaikan masalah-masalah kita yang pelik. Harus ada pengayoman kepada para buruh rendah yang sekarang menderita, sehingga mereka mendapatkan mega pro-mosi dari perusahaan mereka ke jenjang yang lebih baik dan gaji yang lebih manusiawi. Harus ada pengawasan yang ketat dan komitmen yang kuat sehingga ada mega pro-gress terhadap mega pro-yek yang sudah dijalankan seperti infrastruktur, pemberantasan korupsi, dan reformasi birokrasi. Presidenku harus mencari mega pro-motor yang mau mendanai investasi di republik tercinta ini, jangan kalah dengan Cina dan Vietnam.
Kami rakyat paham, semuanya butuh mega pro-ses yang memakan waktu dan berkelanjutan. Kami akan mengawasi dan mendukung mega pro-gram-program pemerintah.
Baiklah, mega pro-yek pilpres yang sedang dilaksanakan sekarang ini, lanjutkan! dengan lebih cepat, lebih baik.
I love you all. Contreng-contreng.
Be first to comment this article | Add as favourites (7) | Quote this article on your site | Views: 79 |
|
Awas Kita Dalam Bahaya Ancaman Perokok |
|
Opini -
Sosial & Politik
|
|
Rabu, 10 Juni 2009 |
Hari minggu lalu saya mengunjungi paman saya yang sedang terbaring di Rumah Sakit karena kanker paru stadium III. Menurut keluarganya, beliau kerja dilingkungan perokok yang merokok di dalam ruangan kerja berpendingin udara. Paman saya adalah perokok pasif, dan korban dari para perokok yang tidak peduli kesehatan dirinya maupun sekelilingnya.
Saya mengirimkan sms kepada sahabat-sahabat saya yang perokok. Apa mereka tidak kasihan dengan keluarga mereka? apa mereka tidak kasihan dengan diri mereka?. Kalau mereka tidak peduli dengan keluarga dan diri mereka, mana mungkin mereka akan peduli dengan saya.
Saya bisa jadi korban, sebagai perokok pasif.
Saya tidak habis pikir, apa yang bisa menyembuhkan penyakit merokok mereka dan memberikan kesadaran kepada mereka. Bahwa hidup bukan hanya untuk saat ini. Uang bukan hanya untuk makan minggu ini. Apa mereka sama sekali tidak menyadari bahwa apabila mereka atau saya terbaring di rumah sakit, maka hilanglah tulang punggung ekonomi keluarga, habislah tabungan yang dipersiapkan untuk hari tua, terancamlah masa depan istri dan anak-anak tercinta.
Ya Allah, hindarkan lah kami dari penyakit dan kesulitan. Berilah kami kekuatan untuk menjadi lebih sehat, dan lebih baik.
Be first to comment this article | Add as favourites (9) | Quote this article on your site | Views: 79 |
|
Pada Saat Genting dan Susah, Kita Berubah |
|
Opini -
Soft Skill
|
|
Rabu, 10 Juni 2009 |
Manusia jahat, merusak bumi. Menurut para penghuni luar angkasa, planet bumi harus diselamatkan dengan cara membinasakan perusak bumi, yaitu manusia. Maka proses pembinasaan manusia pun berjalan.
Seorang Profesor dan Dokter beserta anaknya mencoba meyakinkan eksekutor pembinasaan manusia. Bahwa umat manusia memang jahat, tapi mereka bisa berubah. Mereka hanya butuh diberi kesempatan. Seringkali kegentingan, kesulitan, dan keterpaksaan mendorong manusia untuk berubah. Hanya kesempatan yang dibutuhkan.
Ketika proses pembinasaan manusia sedang berjalan, eksekutor mulai memahami dan yakin, manusia memang patut diberi kesempatan untuk berubah. Mereka akan berubah pada saat kegentingan dan kesulitan mereka hadapi.
Demikian sekelumit cerita dari film The Day the Earth Stood Still yang dibintangi Keanu Reeves.
Kenyamanan dan ketenangan seringkali membuat dinamika dan kreatifitas menjadi mandek. Merasa cukup dengan apa yang didapatkan saat ini. Tenang dan nyaman dalam suatu capaian yang dikira kekal. Lupa bahwa tidak ada yang tetap di dunia ini. Semua makhluk Tuhan selalu bergerak dinamis. Bumi berputar, meteor menjelajah tata surya, tanaman tumbuh, serangga bermetamorfosis, semuanya bergerak dan berubah secara dinamis.
Status quo membuat kita menolak perubahan, memandang sebelah mata proses pengembangan, tidak menghargai pembaharuan.
Sampai pada akhirnya, kita seringkali harus dipaksa untuk berubah, dengan cara dihadapkan pada kesulitan bahkan musibah. Apakah kita tidak bisa berubah tanpa dihadapkan pada fakta kesulitan tersebut?
Perubahan harus dipandang sebagai keniscayaan. Perubahan adalah dinamika dan memang harus ada, on and on. Kita harus mampu menempatkan diri kita pada arus perubahan, bahkan perubahan harus bisa dipicu dari diri kita, dari yang kecil, dan bahkan sejak saat ini.
Berubah ketika sudah genting, atau mempersiapkan perubahan sejak awal tanpa harus berkorban untuk kegentingan. Itu semua pilihan kita, mana yang akan kita ambil. Semoga bermanfaat.
Be first to comment this article | Add as favourites (8) | Quote this article on your site | Views: 77 |
|
Opini -
Sosial & Politik
|
|
Minggu, 31 Mei 2009 |
Sahabat saya baru kembali dari Jepang. Saya tanya, bagaimana makanan di Jepang?, dia jawab sama sekali tidak enak, hanya kemasannya saja yang bagus, ketusnya.
Saya jadi teringat seloroh teman saya, katanya, semakin enak suatu makanan, semakin banyak racunnya.Saya yakin teman saya tidak berlebihan. Setiap kali saya makan mie goreng di pinggir jalan (termasuk mie Kadin Yogya yang terkenal itu) pasti rasanya jadi hambar dan sama sekali tidak enak. Itu terjadi karena saya bisiki si juru masak, kalau pesanan saya jangan pakai micin.
Kebetulan saja saya tidak bisa bisiki restoran padang, KFC dan sejenisnya, warung tegal, bakso cak man, mie karapitan, dan lain sebagainya, sehingga rasa makanan-makanan tersebut tetap enak, tidak hambar seperti contoh bakmi Kadin di atas.
Saya mungkin terbiasa dengan makanan enak, atau makanan penuh "racun". Contoh saja, bakso yang saya makan, tukang bakso ketika menggiling bakso, bakso diberi micin. Ketika membuat kuah bakso, disiram micin. Ketika dihidangkan dalam mangkok, masih ditambah micin. Pantesan enak dan gurih.
Mungkin karena alasan di atas lah, Bakso yang saya jual tanpa micin diprotes pembeli, tidak sedap!, kata mereka.
Saya lihat di depan SD Negeri di dekat rumah saya, berbagai macam jajanan kaki lima digelar. Dari mie instant, cilox (aci dicolok), es sirop, taro, chiki (made in china), dan entah apa lagi... kita dididik makan "racun" sejak kecil.
Belum lagi berita mengerikan tentang bakso tikus, ikan laut formalin, apel lilin, es batu air sungai, saos tomat busuk, dan entah apa lagi...
Bagaimana pendapat anda?
Comments (1) | Add as favourites (9) | Quote this article on your site | Views: 98 |
|